Hari Terburuk
Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini bulan tampak begitu redup, seredup hati ku malam ini. Akibat kejadian-kejadian yang tak ku inginkan hari ini membuat Aku tak bisa terlelap , bahkan bulanpun merasakannya. Walaupun kejadian-kejadian itu telah berlalu namun tak ada diantara mereka yang mau hengkang dari benakku malah semakin melekat dan tak mau lepas. Sebisa mungkin aku memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhku secepat kilat juga ingatan itu muncul kembali.
Semua kejadian-kejadian itu berawal dari kesalnya aku pada adikku karena membuat makalah ku hancur berantakan dengan menumpahkan segelas susu ke atasnya, Aku tahu mungkin dia tidak sengaja tapi jika itu makalah yang sudah dibuat susah-susah selama beberapa minggu dan harus dikumpulkan hari itu juga tiba-tiba hancur berantakan gara-gara segelas susu, sungguh sangat mengesalkan. Ingin sekali Aku melakukan sesuatu agar adikku itu menyesal namun tak mungkin karena ini waktunya ke sekolah.
Penderitaan ku tidak berakhir disitu, setelah akhirnya berhasil menenangkan diri dan memutuskan untuk berangkat sekolah, ternyata bus yang ku naiki mogok di tengah jalan dan dengan sangat terpaksa Aku harus berjalan kaki menempuh jarak sejauh 3 km menuju sekolah dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.30! yang berarti menandakan aku tidak akan selamat sesampainya nanti di sekolah.
Tidak diragukan lagi, perkiraan ku benar 100%. Sesampai di sekolah ternyata waktu sudah menunjukan pukul 08.00 dan berarti Aku akan digiring guru penjaga ke ruang BP dan pastinya diberi hukuman yang tidak bisa ku tolak walau sekeras apapun Aku menjelaskan penyebab kenapa Aku terlambat. Setelah urusan dengan guru penjaga dan ruangan BP, bergegaslah Aku menuju ruang kelas dan betapa malunya Aku sesampainya di kelas karena Aku tidak biasa terlambat, namun kini semua mata tertuju pada kedatangan ku yang terlambat ini. Setelah beberapa saat Aku mematung di depan pintu kelas, ku beranikan diri masuk, namun kini giliran guru super killer ku menatap ku seolah-olah Aku adalah mangsa yang lemah yang siap diterkam kapan saja dan itu benar, karena kini Aku sudah tidak bisa mengelak lagi bahwa Aku terlambat memasuki kelas dan itu adalah pelanggaran tata tertib.
Setelah setengah jam lebih Aku diceramahi panjang lebar oleh guru super killer ku, akhirnya Aku bisa duduk dan meredakan seluruh emosiku, betapa itu sangat sulit mengingat semua kejadian tadi pagi dan Aku tak mungkin mengeluarkan amarah ku sekarang karena saat ini masih ditengah-tengah jam pelajaran dan berakhirlah Aku memendam semua emosi ku, beruntung karena teman semeja ku tidak menyadari itu, karena akan tambah masalah jika dia menyadari mukaku yang semerah strowbery akibat usahaku menahan emosi. Akhirnya jam pelajaran si guru killer selesai dan itu artinya sekarang Aku harus menghadapi masalah baru lagi karena kini saatnya semua murid di kelasku untuk mengumpulkan tugas makalah kepada guru yang bersangkutan tapi karena makalah ku hancur lebur ulah dari adikku tadi pagi di rumah maka dengan sangat terpaksa Aku harus membuat alasan yang masuk akal kepada guru itu mengapa Aku tidak bisa mengumpulkan makalah itu hari ini.
Beruntunglah karena si guru yang bersangkut bisa mengerti mengapa Aku tidak bisa mengumpulkan makalah itu hari ini dan tidak menghukumku karena tahu Aku sudah terlibat banyak masalah tadi pagi dan itu sudah cukup melegakan bagiku.
Aku pikir masalah sudah berakhir namun semua perkiraan ku salah, saat Aku sedang asyik menyantap makan siang ku, dari kejauhan ku lihat seseorang yang sudah sangat ku kenal berjalan tergesa-gesa ke arahku, ku pikir pasti ada sesuatu yang tidak beres dan ternyata benar. Setelah akhirnya dia sampai di tempatkku dengan terengah-engah dia berbicara dengan suara yang begitu mendesak,
“ Kita harus bicara sekarang tapi tidak disini.”
“ Bicara apa? Kenapa tidak disini saja? “. Tanyaku dengan intonasi yang mendesak juga dan dengan perasaan kaget karena tiak biasanya dia seperti ini, perkiraanku mungkin sekarang benar bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dengan masih terengah-engah dan intonasi suara yang sama Dia tidak menjawab satupun pertanyaanku tetapi malah berkata,
“ Ayo, ikut Aku!Sekarang! ” Sambil menarik tanganku dengan paksa dan menyeretku untuk mengikuti langkahnya yang panjang, entah kemana. Sebisa mungkin Aku menyembunyikan keherananku karena percuma saja Aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi karena Dia sama sekali tidak menjawab, dia hanya menutup mulut dan berusaha menyeretku ke suatu tempat entah dimana dan mengapa dia melakukan ini semua.
Akhirnya semua terjawab sudah. Pertanyaanku yang sedari tadi tidak dijawabnya kini telah terjawab dan benar-benar menghantamku. Sekarang, sebisa mungkin Aku menahan emosiku, itu tidak akan berhasil karena kini semua keluar begitu saja seolah-olah pintu yang selama ini tertutup rapat kini terbuka begitu lebar untuk mereka, Aku benar-benar shyok mendengar pernyataannya. Walaupun hanya terjadi beberapa menit dan hanya beberapa kata saja yang keluar dari mulutnya namun efeknya menghantamku hingga berjam-jam dan terpaksa meminta bantuan teman-temanku untuk menenangkan diri dan itupun tak sepenuhnya berhasil karena rasanya kini tak hanya sedih, tetapi juga kecewa, marah dan juga malu karena teman-temanku yang perhatiannya kini tertuju padaku selalu menanyakan pertanyaan yang sama yang membuatku tambah frustasi. Namun dengan terpaksa dan dengan masih terisak Akupun menjawab apa yang terjadi karena wajah-wajah mereka yang kebingungan membuatku tak tega dan dengan terbata-bata Aku berkata,
“ Aku..aku..di..put..putus..sin..” Kata-kataku tak terselesaikan karena Aku tidak sanggup lagi mengatakan kata selanjutnya namun teman-temanku sudah mengerti dan dengan tatapan seolah-olah mengatakan ‘turut berduka cita’ mereka mencoba menghiburku dengan berbagai cara.
Setelah akhirnya mereka bisa menenangkan Aku dan ternyata butuh waktu lama karena kini bel pelajaran akan dimulai telah berbunyi dengan sangat terpaksa Aku sambil dituntun oleh temanku karena tidak sanggup harus menopang tubuhku sendirian harus memasuki kelas kembali. Ternyata efeknya tadi belum benar-benar hilang karena Aku sama sekali tidak bisa berkosentrasi pada semua pelajaran dan terpaksa para guru harus menegurku sambil bertanya ada apa dengan mataku, karena tanpa disadari Aku tadi menangis terlalu lama dan menyebabkan mataku kini sembab dan bengkak seperti habis ditonjok.
Jam pelajaranpun habis dan dengan sangat terburu-buru Aku berberes-beres dan segera pulang. Seolah-olah masalah-masalah tadi sama sekali tidak berarti bagiku, sesampainya di rumah dengan tatapan kaget ibuku bertanya dengan suara cemas khas ibu-ibu jika melihat anak mereka sakit atau apapun yang membuat para ibu cemas,
“ Ya ampun, apa yang terjadi? Kenapa matamu sampai sembab begitu? Apa ada yang mengganggumu di sekolah?Apa dia temanmu?Ya ALLAH, nak, bilang pada ibu sapa pelakunya? “
Begitu ibuku menanyakan dengan bertubi-tubi yang intinya adalah apa yang terjadi denganku, Aku tidak langsung menjawab karena dengan ibu menanyakan hal itu membuatku mengingat setiap detail kejadian tadi, walaupun sebenarnya aku tidak benar-benar melupakan kejadian itu karena terlalu pedih untuk dilupakan. Sepertinya Aku telah mematung cukup lama hingga akhirnya ibuku membawaku ke ruang tamu dan memberiku segelas coklat panas yang artinya ibuku mengerti bahwa masalah yang terjadi tidaklah semudah yang dia pikirkan tadi. Hingga akhirnya ibuku bertanya untuk kedua kalinya dan membuatku tak tega melihat kebingungan dan kecemasan di parasnya yang cantik dengan terpaksa aku menceritakan semuanya, tak satupun terlewatkan.
Akhirnya ceritaku selesai dan membuatku tambah lemas karena dengan menceritakan semuanya menguras energi dan emosiku yang memang sedari tadi tidak senormal biasanya. Melihat anaknya yang tidak seperti biasanya dan terlihat sangat tertekan dengan semua yang terjadi, ibuku mencoba memberikan kehangatan dan ketenangan melalui pelukannya. Aku merasa waktu berjalan sangat lambat saat ibuku memelukku dan kurasa Aku sangat rindu pada pelukannya ini.
Ibuku berhasil membuatku tenang karena ternyata Aku tertidur dipelukannya yang ternyata tanpa sadar aku sangat sangat lelah akibat energi dan emosi yang terkuras habis. Ibuku yang tidak tega membangunkan Aku terpaksa menidurkan Aku di sofa yang membuat Aku mendapatkan tatapan-tatapan aneh dari keluargaku yang lain saat Aku terbangun, tetapi mereka sama sekali tidak mengatakan apa yang Aku pikirkan. Karena mereka tetap bungkam, kuputuskan untuk acuhkan mereka dan beranjak menuju kamarku, tempat dimana Aku bisa menyendiri dan meluapkan kembali emosiku.
Namun tak seperti yang kuharapkan bahwa Aku bisa meluapkan kembali emosiku, itu sama sekali tidak terjadi, tidak sedikitpun air mata yang keluar bahkan untuk berteriak lagi itu tidak bisa kulakukan yang membuat hatiku tambah hancur. Hancur lebur. Ternyata Aku benar-benar mencintainya, pikirku membuatku tambah menyesal. Memikirkan itu membuatku mengingat semua yang telah dia lakukan untukku, kupikir dia juga mencintaiku seperti Aku mencintainya tetapi ternyata tidak, jika iya dia tidak akan melakukan itu padaku dan sepertinya dia juga tidak menyadari bahwa sebelum dia menghancurkanku seperti itu telah terjadi cukup banyak masalah yang menimpaku. Karena keasyikanku mendebatkan pendapat hati dan pikiranku, Aku sampai tidak menyadari bahwa seseorang telah berdiri di depanku, di tengah-tengah kamarku, yang ternyata adalah tetangga dekatku yang pasti berada disini karena disuruh ibuku untuk menghiburku dan dia ternyata menyadari ada sesuatu yang salah dari diriku karena dia langsung duduk di sebelahku dan berkata dengan suara menenangkan sambil meremas pundakku juga menatapku lekat-lekat ,
“ Aku sudah mendengar semua ceritanya dari ibumu dan aku pikir kau butuh waktu untuk menenangkan diri.”
Aku hanya bisa menanggapi dengan senyuman yang pastinya terlihat sangat dipaksakan karena dia langsung menarikku dalam pelukannya dan mulailah Aku menangis dengan terisak-isak seperti sebelumnya yang membuat pikiranku beberapa menit yang lalu meluap karena Aku hanya bisa meluapkan emosiku jika ada seseorang yang mampu menjadi tumpuan atau sekedar tempat curhat dan menjadi tempatku menangis.
Ternyata waktu telah berlalu cukup lama karena sekarang matahari telah tenggelam di ufuk barat dan Aku telah melepaskan pelukan yang menenangkan tadi dan membiarkan dia pulang. Sekarang, Aku sudah agak tenang namun sama sekali belum meringankan Aku dari masalah-masalah tadi. Karena pelukan dari ibuku dan tetangga dekatku tadi kurasa hanya sebagai obat penenang sesaat bukan obat pemulih rasa sakit. Padahal tadi Aku telah mengeluarkan berliter-liter air mata namun tetap saja lega yang kurasakan hanya sesaat.benar-benar hanya sesaat dan karena terlalu sibuk dengan segala kejadian yang menimpaku, Aku sampai tidak sadar bahwa Aku masih menggunakan seragam sekolah yang kini telah menjadi lusuh dan Aku lupa sama sekali untuk makan malam walupun orangtuaku bahkan telah berteriak-teriak memanggilku untuk makan namun sadar dipanggil saja tidak apalagi menggubrisnya. Satu hal lagi yang tidak kusadari dari tadi bahwa sekarang jam di dinding kamarku telah meletakkan jarumnya di angka 11 dan Aku tak menyadari itu, Boro-boro lihat jam ingat ganti baju saja tidak.
Hingga sekaranglah Aku terjaga karena setiap usaha untuk memejamkan mata gagal total yang membuatku tambah frustasi mengingat besok aku masih harus masuk sekolah dan pastinya akan bertemu cowok itu lagi yang Aku yakin Aku pasti akan berteriak-teriak histeris seperti melihat hantu dan Aku tak mau itu terjadi, membuatku mengambil keputusan untuk ambil istirahat sehari dan orangtuaku menyetujui itu, karena jelas mereka tidak tega melihat putri mereka seperti ini, seperti keadaanku sekarang ini yang sangat sangat menyedihkan.
Kini mataku benar-benar tertuju pada bulan yang redup itu. Ingin sekali Aku mengatakan,
“ Bulan, nasib kita benar-benar sama hari ini.”
Namun tak bisa karena Aku sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk mengatakan sepatah katapun dan kalaupun kukatakan, Aku yakin dia pasti tidak akan mengerti. Sungguh, benar-benar menyedihkan diri ini karena menangis seharian untuk seorang cowok yang telah menyakitiku bahkan membuatku lupa akan hal-hal lain yang lebih penting dibandingkan dia yaitu keluarga dan teman-teman dekatku yang begitu sangat menyayangiku dan sangat cemas akan keadaanku, pikirku. Aku langsung tersadar dari pemikiran terkahirku itu bahwa dia tidak lebih penting dari keluargaku bahkan dari tetanggaku sekalipun, akibat pemikiran itu membuatku langsung merasakan letih yang luar biasa yang tidak kusadair sebelumnya dan membuatku bisa kembali memejamkan mata bahkan membuat tidurku terasa lebih nyenyak dibandingkan malam-malam sebelumnya karena telah membuatku belajar sesuatu yang sangat penting.
Kini, dalam mimpipun Aku sama sekali tidak berniat melupakan kejadian hari itu yang telah berhasil melumpuhkan ku dalam sehari tetapi Aku juga tidak berniat untuk mengenang momen-momen yang menyedihkan itu dalam kepalaku karena buatku sekarang keluarga dan seorang sahabat lebih penting dan lebih berarti bagiku dibandingkan seorang cowok yang tidak benar-benar mencintaiku dan Aku sangat yakin Aku akan lebih sedih dari sekarang ini jika Aku ditinggalkan keluarga atau temanku. Biarkan sebuah kejadian menjadi sebuah pelajaran buatku dan setiap kejadian pasti akan berakhir bahagia atau yang biasa dikatakan dalam film happy ending membuatku meraskan makna kehidupan. Satu kalimat yang bisa kuucapkan dalam mimpi,
“ Your Family and Your Friend is more Important than Your Boyfriend.”
Dan Aku sangat yakin itu benar 100%.
@end@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar